Latest Posts


A.     PERIODE MASA REMAJA

Masa remaja ( Adolesence ). Istilah Adolesence atau remaja bersal dari kata latin Adolenscere ( kata bendanya, adolensentia yang berarti remaja ), yang berarti pula “ tumbuh” atau tumbuh menjadi dewasa. Lazimnya masa remaja dianggap sebagai permulaan seorang anak secara seksual menjadi matang dan berakhir saat ia mencapai usia matang secara hukum. Penelitian tentang perubahan perilaku , sikap dan nilai-nilai sepanjang masa remaja menunjukan bahwa setiap perubahan terjadi lebih cepat pada awal masa remaja daripada tahap akhir masa remaja. Hasil survai ini juga menunjukan bahwa perilaku, sikap dan nilai-nilai pada awal masa remaja berbeda dengan pada akhir masa remaja.

Secara umum masa-masa remaja dibagi menjadi dua bagian, yaitu masa awal remaja dan masa akhir remaja. Awal masa remaja berlangsung kira-kira sejak umur 15 atau 16 atau 17 tahun dan berakhir umur 21 tahun atau berakhir pada saat individu matang secara seksual sampai mencapai usia matang secara hukum. Masa ini dikenal sebagai periode peralihan, diamana individu mencari identitas atau sering juga disebut sebagai masa tidak realistis dan masa ambang dewasa.

Akibat sifat perubahan dan peralihan ini, remaja rata-rata bersikap ambivalen : disatu pihak ingin diperlakukan seperti anak kecil, namun dilain pihak ingin diperlakukan dan diakui sebagai orang dewasa meski segala kebutuhannya masih minta dipenuhi oleh orang tuanya sebagai mana halnya anak kecil.

Pada masa ini terjadi perubahan yang sangat pesat, baik dalan fisik, peilaku, sikap, dan keadaan psikisnya. Secara umum dapat diidentifikasi beberapa perubahan yang bersifat universal yang terjadi pada remaja, antara lain :

Meningkatkan emosi yang biasanya berhubungan dengan perubahan fisik Perubahan bentuk tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosialnya. Dengan perubahan minat dan perilaku, maka nilai juga berubah. Apa yang yang dianggap penting pada masa anak-anak sudah tidak dianggap penting lagi.

Umumnya remaja bersikap ambivalen terhadap setiap perubahan. Mereka menuntut dan menginginkan kehebatan, tetapi pada saat bersamaan ia sering takut dengan resiko dan tanggung jawab yang harus dipikulnya

Kesulitan utama yang dihadapi remaja dalam mengatasi masalah individualisasi ialah kesulitan dalam mewujudkan dirinya sebagai seorang yang dewasa karena sikapnya yang ambivalen itu.untuk itu masa remaja,meski sedemikian penting sebagai tahap yang harus dilaui menuju masa dewasa, tetapi sering tidak memiliki tempat khusus dalam perkembangan kepribadian seseorang. Maksudnya, sebagai masa transisi, masa remaja seringkali dilupakan atau tidak memiliki identifikasi rentang waktu khusus dan sifat-sifat kepribadian yang konstan. Hal ini berhubungan dengan kecenderungan sikap ambivalen yang sedemikian dominan pada periode ini. Rata-rata identifikasi yang agak universal menyangkut rentang waktu biasanya dididentifikasi sebagai usia antara 13 sampai 18 tahun. Sedangkan yang menyakut kejadian-kejadian penting biasaanya beberapa perubahan berikut :

1.      Perkembangan aspek-aspek biologis.
2.  Menerima peranan dewasa berdasarkan pengaruh kebiasaan masyarakat dimana ia dibesarkan.
3.      Mendapatkan kebiasaan emosional dari orang tua dan orang dewasa.
4.      Berusaha mendapatkan pandangan hidup sendiri.
5.      Merealisasi suatu  identitas sendiri dan dapat mengadakan partisipasi dalam kebudaayaan pemuda sendiri.

B.      Ciri-ciri masa remaja
Seperti halnya periode yang penting selama rentang kehidupan , masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan periode sebelum dan sesudahnya. Hal ini akan diterangkan secara singkat dibawah ini.

Masa remaja adalah salah satu periode yang penting dalam proses perubahan-baik dalam pengertian pertumbuhan maupun perkembangan-yang terjadi secara cepat.

Masa remaja adalah periode peralihan . Dalam setiap  periode peralihan, status individu tidaklah jelas dan terdapat keraguan akan peran yang harus dilakukan. Remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan orang dewasa. Dilain pihak, status remaja yang tidak jelas ini juga menguntungkan karena status ambivalen ini memberikan peluang kepadanya untuk mencoba gaya hidup yang berbeda-beda dan mencoba menentukan pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai bagi dirinya.

Masa remaja sebagai periode perubahan. Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik. Selama masa awal remaja, ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat, perubahan sikap dan perilaku juga berkembang pesat. Jika perkembangan fisik menurun maka perubahan sikap perilaku menurun juga.

Masa remaja sebagai usia bermaslaah. Setiap periode memiliki masalah sendiri-sendiri namun masalah masa remaja sering menjadi maslah yang sulir ditasi baik yang terjadi pada laki-laki maupun perempuan. Terdapat dua alas an bagi kesulitan itu. Pertama, sepanjang masa kanak-kanak, maslahn ya sebagian diselesaikan oleh orangtua dan guru-guru, sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah. Kedua, karena para remaja merasa diri mandiri, sehingga mereka ingin mengatasi maslahnya sendiri, menolak bantuan orangtua dan guru-guru.

Masa remaja sebagai masa pencari identitas. Pada tahun-tahun awal masa remaja, penyesuaian diri dengan kelompok masih tetap penting bagi anak laki-laki dan perempuan. Lambat laun mereka mulai mendambakan identitas diri dan tidk puas lagi denga jadi sama dengan teman-teman dalam segala hal.

Masa remaja sebagai ambang masa dewasa. Dengan semakin mendekatnya usia kematanga yang sah, para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotip belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa. Berpakaian dan bertindak seperti orang dewasa ternyata belumlah cukup. Oleh karena itu, remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa, yaitu merokok, minum minuman keras, menggunakan obat-obatan, dan terlibat dalam perbuatan seks, mereka menganggap bahwa perilaku ini akan memberikan citra yang mereka inginkan.

C.      PERKEMBANGAN FISIK,KOGNITIF,BAHASA,EMOSI,SOSIAL, DAN MORAL PADA USIA REMAJA

1.      Perkembangan Fisik

Perubahan-perubahan fisik merupakan gejala primer dalam pertumbuhan masa remaja yang berdampak terhadap perubahan-perubahan psikologis (Sarwono,1994). Pada mulanya, tanda-tanda perubahan fisik dari masa remaja terjadi dalam konteks pubertas .dalam konteks ini, kematangan oragan-orhgan seks dan kemampuan reproduktif bertumbuh dengan cepat. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan mengalami pertumbuhan fisik yang cepat, yang disebut “growth spurt” (percepatan pertumbuhan), dimana terjadi perubhan dan percepatan pertumbuhan diseluruh bagian dan dimensi badan (Zigler dan Stevenson,1993). Pertumbuhan cepat bagi anak perempuan terjadi dua tahun lebih awal dari anak laki-laki. Umumnya anak perempuan mulai mengalami pertumbuhan cepat pada usia 10,5 tahun dan anak laki-laki pada usia 12.5 tahun. Bagi kedua jenis kelamin, pertumbuhan cepat ini berlangsung selama kira-kira 2 tahun ( Diamond & Diamond, 1986).

Menurut Ziglerdan Stevenson (1993), secara garis besarnya perubahan-perubahan tersebut dapat dikelompokkan dalam dua kategori yaitu perubahan-perubahan yang berhubungan dengan pertumbuhan fisik dan perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan karakteristik sesksual. Berikut ini akan dijelaskan beberapa dimensi perubahan fisik yang terjadi selama masa remaja tersebut:

2.      Perubahan dalam tinggi dan berat

Tinggi rata-rata anak laki-laki dan perempuan pada usia 12 tahun adalah sekitar 59 atau 60 inci. Tetapi, pada usia 18 tahun, tinggi rata-rata remaja lelaki adalah 69 inci. Sedangkan tinggi rata-rata remaja perempuan hanya 64 inci. Tingkat pertumbuhan tertinggi terjadi pada usia sekitar 11 atau 12 untuk anak perempuan dan 2 tahun kemudian untuk anak lelaki . Dalam tahun ini, tinggi kebanyakan anak perempuan bertambah sekitar 3 inci dan tinggi kebanyakan anak lelaki bertamabah lebih dari 4 inci(Zigler dan Stevenson, 1993).

Percepatan pertumbuhan badan juga terjadi dalam penambahan berat badan,yakni sekita 13 kg bagi anak laki-laki dan 10 kg bagi anak perempuan (Malina,1990).Meskipun berat badan juga mengalami peningkatan selama masa remaja,namun ia lebih mudah dipengaruhi,seperti melalui diet,latihan dan gaya hidup umumnya.Oleh Karena itu ,perubahan berat lebih sedikit dapat diramalkan dibanadingan dengan tinggi.

3.      Perubahan dalam proporsi tubuh

Seiring dengan pertambahan tinggi dan berat badan,percepatan,pertumbuhan selama masa remaja juga terjadi pada proporsi ubuh. Bagian-bagian tubuh tertentu yang sebelumnya terlalu kecil, pada masa remaja menjadi terlalu besar. Hal ini terlihat jelas pada tertumbuhan tangan dan kaki, yang sering terjadi tidak proporsional. Perubahan proporsi tubhuh yang tidak seimbang ini menyebabkan remaja merasa kaku dan canggung, serta khawatir bahwa badanya tidak akan pernah serasi dengan tangan dan kakinya.

Perubahan-perubahan dalam proporsi tubuh selama masa remaja, juga terlihat kepada perubahan cici-ciri wajah, dimana wajah anak-anak mulai menghilang, seperti dahi yang semula sempit sekarang menjadi lebih luas, mulut melebar, dan bibir menjadi lebih penuh. Disamping itu, dalam perubahan struktur kerangka, terjadi perdebatan pertumbuhan otot, sehingga mengakibatkan terjadinya pengurangan jumlah lemak dalam tubuh. Perkembangan otot dari kedua jenis kelamin terjadi dengan cepat ketika tinggi meningkat. Akan tetapi, perkembangan otot anak laki-laki lebih cepat, dan mereka memiliki banyak jaringan otot, sehingga anak laki-laki lebih kuat dari anak perempuan.

4.      Perubahan pubertas

Pubertas(puberty) ialah suatu periode dimana kematangan kerangkan dan seksual terjadi dengan pesat terutama pada awal masa remaja. Kematangan seksual merupakan suatu rangkaian dari perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja, yang ditandai dengan perubahan pada cici-ciri seks primer dan ciri-ciri seks sekunder. Meskipun perkembangan ini biasanya mengikuti suatu urutan tertentu, namun urutan dari kematangan seksual tidak sama pada setiap anak dan terdapat perbedaan individual dalam umur dari perubahan-perubahan tersebut.

D.     Perubahan cici-ciri seks primer

Ciri-CIri seks primr menunjuk pada organ tubuh yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi. Bagi anak laki-laki, ciri-ciri seks primer yang sangat penting ditunjukkandengan pertumbuhan yang cepat dari batang kemaluan(penis) dan kantong kemaluan(scrotum), yang mulai terjadi pada usia sekitar 12 tahun dan berlangsung sekitar 5 tahun untuk penis dan 7 tahun untuk skrotum(Seifer dan Hoffnung).

Perubahan-perubahan pada ciri-ciri seks primer pada pria ini sangat dipengaruhi oleh hormone, terutama oleh hormone perangsang yang diproduksi oleh kelenjar bawah otak. Hormon perangsang pria ini merangsang testis, sehingga testis menghasilkan hormone testosteron dan androgen serta spermatozoa(Sarwono, 1994). Sperma yang dihasilkan dalam testis selama masa remaja ini memungkinkan untuk mengadakan reproduksi untuk pertama kalinya. Karena itu, kadang-kadang sekitar usia 12 tahun anak laki-laki kemungkinan untuk mengalami mimpi basah yang pertama. Sementara itu, pada anak perempuan, perubahan ciri-ciri seks primer ditandai dengan munculnya periode menstruasi, yang disebut dengan menarche, yaitu menstruasi yang pertama kali dialami oleh seorang gadis. Terjadinya menstruasi pertama ini memberi petunjuk bahwa mekanisme reproduksi anak perempuan telah matang, sehingga memungkinkan mereka untuk mengandung dan melahirkan anak. Pada anak perempuan terdapat hormone estrogen dan progesterone ( Sarwono,1993 ).

E.      Perubahan ciri-ciri seks sekunder

Ciri-ciri seks sekunder adalah tanda-tanda jasmaniah yang tidak langsung berhubungan dengan proses reproduksi,namun merupakan tanda-tanda yang membedakan antara laki-laki dan perempuan.

1.      Perkembangan Kognitif

Masa remaja adalah suatu periode kehidupan dimana kappasitas untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan secara efisien mencapai puncaknya (Mussen, Conger & Kagan, 1969). Hal ini adalah karena selama periode masa remaja ini, proses pertumbuhan otak mencapai kesempurnaan. Sistem saraf yang berfungsi memproses informasi berkembangan dengan cepat. Disamping itu, pada masa remaja ini juga terjadi reorganisasi lingkaran pada syaraf prontal lobe (belahan otak bagian depan sampai pada belahan atau celah sentral). Prontal lobe ini berfungsi dalam aktivitas kognitif tingkat tinggi, seperti kemampuan merumuskan perencanaan strategis atau kemampuan mengambil keputusan(Carol & David R., 1995).

Perkembangan prontal lobe sanagt berpengaruh terhadap kemampuan kognitif remaja, sehingga mereka mengembangkan kemampuan penalaran yang memberinya suatu tingkat perkembangan moral dan kesadaran sosial yang baru.ketika kemampuan kognitif mereka mencapai kematangan, kebanyakan anak mulai memikirkan tentang apa yang diharapkan dan melakukan kritik terhadap masyarakat, orang tua dan bahkan kekurangan diri sendiri (Myers,1996). Kemudian , dengan kekuatan baru dalam penalaran yang dimilikinya menjadikan remaja mampu membuat pertimbangan dan melakukan perdebatan sekitar topic-topik abstrak tentang manusia, kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan keadilan.

2.      Perkembangan kognisi  sosial

Menurut Dacey & Kenny (1997), yang dimaksud dengan kognisi sosial adalah kemampuan untuk berpikir secara kritis mengenai isu-isu dalam hubungan interpersonal, yang berkembang sejalan dengan usia dan pengalaman, serta berguna untuk memahami orang lain dan menentukan bagaimana melakukan interaksi dengan mereka.

Salah satu bagian penting dari perubahan perkembangan aspek kognisi sosial remaja ini adalah apa yang diistilahkan dengan psikolog David Elkind dengan egosentrisme yakni kecenderungan remaja untuk menerima dunia ( dan dirinya sendiri ) dan perspektifnya mereka sendiri. Dalam hal ini, remaja mulai mengembangkan sesuatu gaya pemikiran egosentris, dimana mereka lebih memikirkan tentang dirinya sendiri dan seolah-olah memandang dirinya dari atas. Remaja mulai berpikir dan mengintepretasikan kepribadian dengan cara sebagaimana yang dilakukan oleh para ahli teori kepribadian berpikir dan mengintepretasikan kepribadian, dan memantau dunia sosial mereka dengan cara-cara yang unik.

3.      Perkembangan moral

Moral merupakan suatu kebutuhan penting bagi remaja, terutama sebagai pedoman menemukan identitas dirinya, mengembangkan personal yang harmonis, dan menghindari konflik-konflik peran yang selalu terjadi dalam masa transis. Meskipun moral erat kaitannya dengan hubungan interpersonal, namun sejak lama ia telah menjadi wilayah pembahasan dalam filsafat. Oleh sebab itu, Lawrence Kohlberg menempatkan moral sebagai fenomena kognitif dalam kajian psikologi. Apa yang disebut moral menurut Kohlberg adalah bagian dari penalaran (reasoning , sehingga ia pun menamakannya dengan penalaran moral (moral reasoning). Penalaran atau pertimbangan tersebut berkenaan dengan keluasan wawasan mengenai relasi antara diri dan orang lain, hak dan kewajiban. Relasi diri dengan orang lain ini didasarkan atas prinsip equality, artinya orang lain sama derajatnya dengan diri. Jadi, antara diri dan diri orang lain dapat dipertukarkan. Ini disebut prinsip reciprocity. Moralitas pada hakikatnya adalah penyelesaian konflik antara diri dan orang lain, antara hak dan kewajiban (Setiono,1994).

Dengan demikian, orang yang bertindak sesuai dengan moral adalah orang yang mendasarkan tindakannyaatas penilaian baik buruknya sesuatu. Karena lebih bersifat penalaran, maka perkembangan moral menurut Kohlberg sejalan dengan perkembangan nalar sebagaimana yang dikemukakan oleh Piaget. Makin tinggi tingkat penalaran sesorang menurut tahap-tahap perkembangan Piaget tersebut, makin tinggi pula tingkatan moralnya. Dengan penekannya pada penalaran ini berarti Kohlberg ingin melihat struktur proses kognitif yang mendasari jawaban ataupun perbuatan-perbuatan moral.




Hal Yang Perlu Diketahui Tentang AnakTunanetra

Apa itu tunanetra??

Tunanetra merupakan sebutan untukindividu yang mengalami, gangguan pada indra penglihatan. Pada dasarmya, tunanetra dibagi menjadi dua kelompok yaitu buta total dan kurang penglihatan (low vision).

Buta total bila tidak dapat melihat dua jari di mukanya atau hanya melihat sinar atau cahaya yang lumayan dapat dipergunakan untuk orientasi mobilitas. Mereka tidak bisa menggunakan huruf lain selain huruf braille.

Sedangkan, yang disebut low vision adalah mereka yang bila melihat sesuatu, mata harus didekatkan, atau mata harus dijauhkan dari objek yang dilihatnya, atau mereka yang memiliki pemandangan kabur ketika melihat objek. Untuk mengatasi permasalahan penglihatannya, para penderita low vision ini menggunakan kacamata atau kontak lensa.

klasifikasi pada anak tunanetra :

Ada beberapa klasifikasi lain pada anak tunanetra. Salah satunya berdasarkan kelainan-kelainan yang terjadi pada mata, yaitu:
·         Myopia: penglihatan jarak dekat, bayangan tidak terfokus, dan jatuh di belakang retina. Penglihatan akan menjadi jelas jika objek didekatkan. Untuk membantu proses penglihatan, pada penderita myopia digunakan kacamata koreksi dengan lensa negatif;
·         Hyperopia: penglihatan jarak jauh, bayangan tidak terfokus, dan jatuh di depan retina. Penglihatan akan menjadi jelas jika objek dijauhkan. Untuk membantu proses penglihatan, pada penderita hyperopia digunakan kacamata koreksi dengan lensa positif, dan
·         Astigmatisme: penyimpangan atau penglihatan kabur yang disebabkan ketidakberesan pada kornea mata atau pada permukaan lair pada bolamata sehingga bayangan benda, baik pada jarak dekat maupun jauh, tidak terfokus jatuh pada retina. Untuk membantu proses penglihatan, pada penderita astigmatisme digunakan kacamata koreksi dengan lensa silindris.
Sumber : Smart Aqila. 2010.  Anak Cacat Bukan Kiamat. Yogyakarta : KATAHATI

A.    Karakteristik Tunanetra

1.      Keterbatasan di dalam lingkup keanekaragaman pengalaman.
Dengan hilangnya penglihatan, orang tunanetra dalam memperoleh informasi menggantungkan pada indera yang lain dan masih berfungsi. Indera pendengaran, Perabaan, Penciuman, Pengecap dan pengalaman kinestetis adalah saluran keinderaan yang cukup penting, akan tetapi indera di luar penglihatan ini sering tidak dapat mengamati dan memahami sesuatu objek  di luar jangkauan fisiknya. Dengan kata lain objek yang berada di luar jangkauannya secara fisik tidak akan berarti bagi tunanetra.

Suara yang didengarnya apabila tidak ada hubungannya dengan hal-hal yang berarti dan dimengerti, maka suara itu akan berlalu tanpa kesan (tanpa pengalaman baru). Pendengaran memberi petunjuk  tentang arah dan jarak suatu objek apabila objek tersebut bersuara, tetapi tidak membantu orang tunanetra untuk memperoleh gambaran yang kongkrit tentang objek tersebut.
2.      berinteraksi dengan  lingkungan

Hilangnya rangsangan visual menyebabkan hilangnya rangsangan untuk mendekatkan diri dengan lingkungan, yang pada gilirannya akan menyebabkan pula hilangnya keinginan untuk berinterakswi dengan lingkungan.  Didunia ini banyak sekali kegiatan yang dapat dikuasai dengan meniru, meniru akan lebih efektif dikuasai dengan melihat. Tiadanya penglihatan pada seseorang maka banyak aktivitas yang menyebabkan frustasi baginya.
3.      Keterbatasan dalam berpindah-pindah tempat

Keanekaragaman informasi dan keanekaragaman pengalaman akan memperoleh bila seseorang dapat bepergian dengan bebas dan mandiri. Untuk terciptanya interaksi dengan lingkungan fisik maupun sisial dibutuhkan adanya kemampuan berpindah-pindah tempat. Semakin mampu dan terampil seorang tunanetra melakukan mobilitas semakin berkurang hambatan dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Dengan demikian diperlukan suatu usaha dari lingkungan untuk memberikan pelayanan yang mengarah kepada usaha untuk menghilangkan atau meniadakan batas-batas yang memberikan keterbatasan pada tunanetra, sehingga kebutuhan umum dan kebutuhan khusus tunanetra akan terpenuhi. Mobilitas seorang tidak akan optimal bila tidak didukung oleh tubuh yang segar dan sehat. Karena itu Pendidikan jasmani dan keterampilan Orientasi dan Mobilitas bagi tunanetra dua hal yang berbeda tujuan, tetapi dalam kehidupan kedua kegiatan dan keterampilan tersebut tidak dapat dipisahkan. Dengan kata lain pula bahwa bimbingan Jasmani bagi tunanetra merupakan salah satu kebutuhan.

Sumber dari buku : Kagan Havemann, 1972, hal. 357

Demikian Informasi dari saya mengenai anak Tunanetra semoga dapat menambah wawasan kita, dan dapat memahami Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) khususnya pada anak Tunanetra.

“Divergensi Fisika dan Agama”
Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah Filsafat Ilmu
Dosen Pengampu : Rachmad Resmiyanto, S. Si., M. Sc.





Di Susun Oleh :
Mulyadi Adna             16690035



JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2016/2017






BAB I
Pendahuluan

A.    Latar belakang
Membahas sebuah metode berarti membahas sebuah cara terkontrol "pengikut kebenaran masa lalu" dan di dalam ilmu fisika dan agama seperti sebuah pendekatan terstruktur terhadap pemahaman, untuk menjadi seorang ahli metode, tetapi prosedur-prosedur pada kedua bidang tersebut mungkin kelihatan sangat berbeda dan bahkan bertentangan. Dalam tinjauan luas ini, kita akan menilai singkat saja mengenai penggunaan dua bidang tersebut untuk melihat apakah dan seberapa jauh keterkaitan atau pertentangan di antara keduanya. Kalau keanekaragaman agama terbukti berpengaruh besar, makalah ini dimaksudkan untuk mendiskusikan terutama kepercayaan theistik Barat yang cukup beragam, sebagaimana kepercayaan yang telah dikembangkan sehubungan dengan ilmu fisika, yang mempunyai keanekaragaman hampir sama dengan theisme. Meskipun beraneka ragam, kedua aliran epistemis besar ini di Barat saling berhubungan erat, sekaligus sama dan independen.










BAB II
Kajian Teori
A.    Metode dalam llmu pengetahuan
Manusia yang telah menyadari eksistensi dirinya akan senantiasa menanyakan banyak hal di dalam hatinya tentang persoalan yang menjadi misteri dalam hidup ini. Berbagai macam pertanyaan tentang asal, tujuan, dan alasan manusia hidup di dunia ini semakin mengalir dalam bisikan hati. Selanjutnya manusia menanyakan tentang keberadaan alam ini. Keduanya dilakukan hanya untuk menjawab misteri di dunia ini. Semakin bertambahnya kedewasaan seseorang membuat otak dan logika membentuk sebuah pengertian dan mengambil kesimpulan tentang adanya Tuhan. Manusia secara fiṭrah bergejolak mencari dan merindukan Tuhan, mulai dari perasaan sampai pada penggunaan akal (filsafat). Fiṭrah manusia terkadang tertutup kabut kegelapan yang mengakibatkan manusia tidak mau mengenal Tuhannya, namun kekuatan  fiṭrah ini tidak dapat dihapuskan dan sewaktu-waktu muncul dalam kesadaran manusia yang menyebabkan kerinduan yang mendalam terhadap penciptaNya. Perpaduan antara naluri, akal, dan wahyu terjadi ketika Tuhan memberikan petunjuk berupa wahyu yang diberikan kepada para Rasul-rasul Nya. Ketegangan hubungan agama dan filsafat terjadi pada abad pertengahan.
Agama dan sains dalam pentas kehidupan manusia adalah dua entitas yang berbeda sebagai sumber pengetahuan dan sumaber nilai bagi kehidupan manusia. Kendati dalam kerangka filosofis keduanya berbeda, tetapi dalam konteks historis pernah dilakukan upaya-upaya konsolidatif, baik dalam bentuk kontraproduktif maupun dalam bentuk mutualistic.
Ilmu pengetahuan akan selalu berkembang sesuai dengan kompleksitas kebutuhan manusia. Dalam perkembangannya tidak dapat dipisahkan dari dataran filsafati agar tidak melaju secara liar tanpa terkendali.
Untuk memenuhi keingintahuan terhadap rahasia-rahasia alam ini penjelasan penjelasannya selalu dipakai pendekatan-pendekatan dalam bentuk atau keadaan yang sederhana atau keadaan-keadaan ideal.Keadaan ideal ini dinyatakandalam bentuk perumusan matematika yangselanjutnya kita sebut sebagai hukum-hukum fisika.
Memang setiap kebutuhan hidup manusia adalah awal tumbuh dan berkembangnya suatu ilmu pengetahuan agama atau kepercayaan. Sebagai salah satu objek yaitu agama islam. Bagaimana kebutuhan manusia  meyakini cara shalat yang baik dan benar sesuai tuntunan nabi? Muncullah ilmu pengetahuan fiqih. Kebutuhan akan ekonomi dalam perdagangan, muncullah ilmu muamalah. Selain itu, Menurut sejarah, agama tumbuh bersamaan dengan berkembangnya kebutuhan manusia.
Ilmu pengetahuan (ilmiah) beda dengan pengetahuan biasa. Sebab ilmu pengetahuan ilmiah merupakan hasil dari serangkaian kegiatan yang memang berkualifikasi ilmiah, menyangkut keharusan adanya metode ilmiah, objektif, universal tanpa pamrih dan harus berguna atau dapat dimanfaatkan. Sedemikian rupa sehingga ilmu pengetahuan itu harus didekati melalui pendekatan dari sudut pandang ontologi, epistemologi dan aksiologi agar di peroleh pemahaman yang benar dalam hubungannya dengan keutuhan fungsi multidisipliner sebagai sasaran filsafat ilmu.
Matematika dan Observasi Bagaimana perbedaan ilmu pengetahuan baru pada abad ketujuh belas dengan ilmu pengetahuan baru abad pertengahan? Fokusnya adalah kombinasi baru penalaran matematis dengan observasi eksperimental. Satu abad sebelum Galileo, pentingnya penyederhanaon matematis telah didukung oleh Copernicus. Skema Ptolemaic, yang mengasumsikan matahari dan planet berputar mengellingi bumi, memerlukan perubahan secara bertahap, dengan memperumit keadan, untuk mencapai kesesuaian dengan data astronomis yang tersedia; tambahan tersebut kompleks dan acak. Model Copernican, di mana planet-planet dan bumi berputar mengelilingi matahari, sesuai dengan pengamatan yang keakuratannya sebanding, dan jauh lebih sederhana secara matematis. Copernicus memuji keindahan sejumlah kecil lingkaran konsentris, banyak yang terdapat dalam tradisi Pythagorean yang mempercayai harmoni angka. Tanpa beberapa data baru, dukungan yang diterimanya sebagian besar berkarakter filosofis, karena kebangkitan Platonisme mulai menantang dominasi otoritas Aristoteles.
Dalam karya Kepler pada awal abad ketujuh belas, keyakinan terhadap harmoni matematis diekspresikan secara lebih antusias. Dia mampu menunjukkan bahwa data observast akurat yang diwarisinya dari Tycho Brahe konsisten dengan modifikasi sistem Copernicus, yaitu asumsi eliptikal bukannya orbit planet lingkaran. Kepler melihat "kesempurnaan geometris" itu sendiri sebagai alasan mengapa planet mengikuti orbit eksak secara matematis. Dalam kepercayaannya terhadap "misteri angka" dan "musik di langit" sebagaimana dalam kepercayaannya bahwa "Tuhan đigambarkan dalam bentuk geometris," ada motif estetika dan agama dan juga motif ilmiah. Namun dalam proses yang menekankan observasi akurat dan menunjukkan hubungan matematis, sebuah perubahan penting terjadi: alam semesta secara bertahap dilihat sebagai sebuah struktur matematika. Hubungan signifikan bersifat kuantitatif, bukan kualitatif sebagaimana menurut Aristoteles. Tanpa keberhasilan matematika, revolusi ilmiah abad ketujuh belas dan revolusi fisika pada abad kedua puluh tidak mungkin terjadi.
 Pada karya Galileo-lah (1564-1642) pendekatan matematis ini dikombinasikan dengan penekanan pada percobaan. Dia berhak dipanggil bapak ilmu pengetahuan  modern, karena dalam karyanya, paparan khusus tentang metodologi baru, pertama kali ditemukan formulasi eksplisit dan praktek yang produktif. Kombinasi teori dengan eksperimen tentu saja dapat dilacak kembali ke abad sebelumnya (para ahli di Italia utara pada abad kelima belas, Ockhamists di Oxford pada abad keempat belas, dan tokoh-tokok seperti Archimedes dari Yunani kuno), tetapi kombinasi tersebut ditunjukkan dengan jelas pada penyelidikan cermat Galileo. (Ian G Barbour : 2006).
Kalau dalam Kisah Lama sains, seperti pandangan yang dimiliki Galilei dan Descartes bahwa dunia adalah dunia objektif yang sudah dilucuti dari segala kualitas indera dan pikiran atau sebaliknya dunia subjektif semata seperti yang diungkapkan oleh Berkeley, Hume, Kant atau Sartre, maka dalam pemahaman baru dari Kisah Baru dunia telah dikembalikan pada peranan pada peranan yang sentral dari manusia. Dalam Kisah Baru, diajukan tiga dimensi penting dalam pandangannya terhadap dunia, yakni; mengenai keluasannya (vastness), sifat menggabungkan (unity), dan kecerahan (light). Tradisi baru ini berupaya menjauhkan diri dari segala bentuk materialisme dan saintisme. Salah satu trend yang menggejala dalam Kisah Baru sains adalah berkembangnya sains dengan visi holistik. Sains dengan visi holistik inilah yang menciptakan dan memperkaya pertanyaan filosofis –yang sebenarnya klasik namun dengan nuansa-nuansa yang baru− antara lain, mengenai keberadaan Tuhan, penciptaan dan finalitas.


B.     Fisika dan ketidakjelasan
Sebelum paradigma Newton sepenuhnya menguji kapasitas agama untuk menyerapnya, sebuah kejutan muncul, mengguncangkan semua yang mekanismenya tidak tahan terhadap kejutan tersebut: paradigma Newton itu sendiri memasukkan teori dan observasi ilmu fisika abad dua puluhan. Determinisme telah dipertahankan setidaknya secara statistik sebagai asumsi metodologis untuk semua ilmu pengetahuan, tetapi tidak lagi dengan adanya kepastian kuat ilmu pengetahuan sebelumnya. Perubahan paradigma ini dimulai sekitar perubahan abad selanjutnya dengan anomali tertentu yang terbukti revolusioner. Perubahan ini dipusatkan pada awal di sekitar fenomena radiasi. Radiasi yang awalnya merupakan energy misterius yang dikirimkan dari materi secara spontan, seperti ketika radium memancarkan sinar X. Tetapi tak lama kemudian radiasi tersebut terbukti sebagai alat observasional yang kuat, yang, seperti teleskop beberapa abad sebelumnya, memungkinkan para ilmuwan melihat apa yang sebelumnya tidak dapat dilihat, hanya saat ini alat pengintai tersebut tidak begitu besar dan menyenangkan tetapi semuanya begitu kecil dan penting. Pada awalnya fisika menemu nukans semua yang ada di atas langit nyata dan deterministik. Fisika menyatakan bahwa semua aktivitas di lingkungan bumi kita ini adalah pergeraka materi. (Holmes Roston III : 2006)
Dapat dikatakan cukup persuasif, bahwa jauh di dalam tradisi Kristen barat di sana ada artikulasi teologi Tuhan dan dunia yang lain yang lebih penting bagi tradisi selama berabad-abad dan banyak lagi iluminatif pertanyaan-pertanyaan yang orang Kristen dan orang lain angkat hari ini tentang alam dan kemanusiaan. Ini perlu diambil kembali dengan cara tidak hanya pengembangan doktrin tetapi juga kehidupan iman di kalangan Kristen popular pikiran. Apa yang kita cari adalah topi wawasan teologis tidak membenarkan (atau, lebih baik, yang melarang) serangan manusia atas planet Bumi. (Stephen R Kellert : 2002)
Pertentangan yang terjadi diantara agama dan sains merupakan peninggalan alam abad kedelapan belas dan abad  ke Sembilan belas. Pada masa-masa itulah muncul sains-sains modern, denan adanya penemuan-penemuan baru, banyak para iluwan yang menyatakan diri bahwa mereka tidak lagi perlu mempercayai tuhan. (Waheeduddin Khan : 1980)


C.     Konvergensi Agama dan Ilmu Fisika
Damaskus  adalah  tempat  islam  pertama  kali  menaruh  perhatian  pada ilmu.  Di  tempat  itu  juga  khalifah  pertama  kali  berdiri.  Selama  lima  puluh tahun,  sejak 700  M  para  ahli  telah  menekuni  astronomi.  Tetapi  akibat  perang yang   berkecamuk   di   sana   ilmu   tidak   berkembang.   Pada   masa   khalifah  Abbasiyah  pusat  islam  pindah  ke  Baghdad.  Tempat  itu  kemudian  menjadi pusat  perkembangan  ilmu  alam.  Kawasan  ini  dekat  dengan Asia  dan  Baghdad mau menerima ilmu dari luar.
Agama tidak dapat dipisahkan dari bagian-bagian lain kehidupan manusia, jika ia merupakan reaksi terhadap keseluruhan wujud manusia terhadap loyalitasnya yang tertinggi. Sebaiknya, agama harus dapat dirasakan dan difikirkan: agama harus diyakini dan dijelaskan dalam tindakan.
Fakta yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan ketika manusia mengatakan bahwa tidak ada korelasi antara agama dan ilmu, maka ini menjadi hampa. Seperti dalam teori relativitas Enstein yang kemudian mendapat dukungan dari revolusioner dari teori fisika kuantum, yang membicarakan tentang dunia mikro sub–atom, yang merombak total pandangan tentang materi. Dengan teori ini pandangan lama tentang atom-atom dunia mikroskopik adalah materi yang terkecil dari materi harus ditinggalkan karena tidak relevan. Artinya pada tingkat materi yang terkecil alam mengelak tidak bisa diketahui oleh mata manusia. Di sinilah kemudian para ilmuwan meyakini adanya ruang mistik dalam ilmu fisika yang selama ini diyakini sebagi ilmu pasti.12 Ruang-ruang tersebut tidak dapat dijangkau oleh manusia karena itu berada pada ruang-ruang metafisik. Ruang-ruang metafisik yang sulit ditembus oleh ilmu menjadikan manusia harus mengakui akan eksistensi X, yang merupakan pemilik alam semesta.
Keteraturan  sistem  tata surya  adalah  bukti  empiris  dari  adanya   hukum   alam,   yaitu   hukum   keseimbangan. Timbulnya  hukum  keseimbangan  ini  karena  adanya  interaksi  antara  benda - benda  langit  yang memiliki  massa  yang  menjadi  anggota  sistem tata surya   tersebut.   Interaksi tersebut menghadirkan medan gravitasi. Pergerakan seluruh planet mengelilingi matahari bahkan perputaran  planet  itu  sendiri  memenuhi  hukum  keseimbangan. Keberadaan   bumi dengan seluruh fenomena alamnya semua tunduk  dan  patuh  pada  hukum  keseimbangan.  Pergantian siang dan malam adalah salah satu bukti bahwa bumi yang kita diami ini selalu  taat  pada  hukum  keseimbangan.  Semua  realitas  alam  yang senantiasa membawa anugrah kepada ummat manusia adalah fakta empiris alam  ini selalu taat dan patuh kepada hukum keseimbangan.
Pencarian intelektual dari segi akal budi suatu pengetahuan yang mau bersifat global merupakan “motor” si ahli fisika yang mencari sebuah teori unifikatris. (Louis Leahy : 2001)

















BAB III
Pembahasan
Ilmu pengetahuan (ilmiah) beda dengan pengetahuan biasa. Sebab ilmu pengetahuan ilmiah merupakan hasil dari serangkaian kegiatan yang memang berkualifikasi ilmiah, menyangkut keharusan adanya metode ilmiah, objektif, universal tanpa pamrih dan harus berguna atau dapat dimanfaatkan. Sedemikian rupa sehingga ilmu pengetahuan itu harus didekati melalui pendekatan dari sudut pandang ontologi, epistemologi dan aksiologi agar di peroleh pemahaman yang benar dalam hubungannya dengan keutuhan fungsi multidisipliner sebagai sasaran filsafat ilmu.
Konvergensi fisika dan agama dalam menghubungkan ilmu sains dan ilmu agama merupakan hal yang menarik untuk diperbincangkan, sebab manusia tak bisa dipisahkan dengan agama maupun manusia dengan ilmu fisika. Dengan ilmu agama yang berlandaskan keyakinan dan ilmu fisika cenderung mencari-cari pengalaman dalam sebuah percobaan dan perhitungan secara riil.
Ketidakpastian yang sering ditemukan dalam ilmu fisika membuat para ilmuwan menjadi merasa krisis ilmu seperti pada pergantian era ilmu fisika klasik dan fisika modern. Kini paradigma fisika klasik sudah tergantikan dengan fisika modern, pencarian manusia terhadap ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Berbeda halnya dengan ilmu agama yang telah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan tak pernah ada pergantian paradigma (perubahan akidah), hanya saja dalam ilmu agama islam juga ada beberapa kasus penyelesaian hukum fiqih yang menyesuaikan perkembangan zaman.
Lagi – lagi yang menjadi akar permasalahan dari perbandingan agama dan fisika adalah fakta-fakta yang secara empiris manusia lebih mengenal ilmu fisika dibandingkan dengan ilmu agama, hal ini bisa terjadi karena pada permulaan ilmu fisika adalah suatu hal yang mucul dari akal manusia dan dikembangkan, dengan begitu manusia kerap kali lebih mudah percaya dengan ilmu fisika dibandingkan dengan ilmu agama.
Dalam agama islam, al qur’an dan as-sunnah merupakan pedoman yang mutlak sebagai dasar berdirinya ilmu agama islam.  Segala aspek kehidupan dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi pun diatur dalam agama islam, namun masih banyak fakta-fakta yang belum ditemukan oleh manusia dalam sains al-qur’an, seperti halnya pada ayat al qur’an yang membahas mengenai perputaran bumi dan matahari, apakah bumi yang mengelilingi matahari atau matahari yang mengelilingi matahari, tafsir mengenai ayat ini pun masih terbagi menjadi dua pendapat seperti di atas.

















BAB IV
Kesimpulan
1.      Dalam perspektif Islam, pancaindra dan akal/rasio manusia sebagai basis dari upaya untuk menghasilkan ilmu tentu tidak hanya berakar terhadap ilmu semata sebagai kebenaran mutlak, tetapi pada sisi yang paling dalam dari upaya tersebut adalah menemukan kebenaran objektif terhadap keimanan sebagai manusia.
2.      Jalan untuk memperoleh pengetahuan merupakan bagian dari tidak dapat dipisahkan dari dua teori penemuan jalan ilmu, dimana keduanya memiliki pandangan yang berbeda-beda terhadap ilmu.














Daftar Pustaka
Roston III, Holmes. 2006. ILMU & AGAMA Sebuah Survai Kritis. Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga .
Barbour, Ian G. 2006. ISU DALAM SAINS DAN AGAMA. Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga.
Kellert, Stephen R, and Timony J Farnham. 2002. The Good in Nature and Humanity. London : Island Press
Nuraini. 2016. MENGINTEGRASIKAN AGAMA, FILSAFAT, DAN SAINS. Hal.53,Volume 2, Nomor 1.
Arifudin, Iis. 2016. Integrasi Sains dan Agama  serta Implikasinya terhadap Pendidikan Islam. Hal. 169, Jurnal Edukasia Islamika: Volume I, Nomor 1
Muin, Fatkhul. 2015. KONVERGENSI ISLAM DAN SAINS DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT. Hal. 245, Vol. XXXIX No. 2
Description: lambang uinChrist Verhaak, “Francis Bacon: Perintis Filsafat Ilmu Pengetahuan” dalam Tim Redaksi Driyakarya, Hakekat Pengetahuan dan Cara Karja Ilmu-ilmu, (Jakarta: Gramedia, 1993), 13-20, P. 15
Hamzah Ya’kub, Filsafat Agama: Titik Temu Akal dengan Wahyu, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1991), hlm. 1-2.
Hamzah, Abbas. 1981. PengantarFilsafatAlam. Surabaya: al-Ikhlas. 
Poedjawijatna. 1980. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. Jakarta: PT Pembangunan
Suhartono, Suparlan. 2007.  Dasar – dasar filsafat. Jogjakarta: Ar – Ruzz Media
Anda  Juanda. Integrasi  Ilmu  Alam  (Sains)  Dan  Agama  Berbasis  Kurikulum  Grass  Roots  Di Perguruan Tinggi Islam. Scientiae Educatia. 2014; 3(1) : 79 – 88

Haught, John F. 2004. Perjumpaan Sains dan Agama: Dari Konflik ke Dialog, terj. Fransiskus Borgias. Bandung: Mizan.
Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. 2001. Prolegomena: To the Metaphysics of Islam. Kuala Lumpur